Fakta Menarik Lainnya dari Penggunaan Transportasi di Indonesia

Posted on

Sewa bus pariwisata – Ada sejumlah kenyataan menarik lainnya dari pemakaian transportasi umum di Indonesia, baik offline maupun online. Mulai dari lama masa-masa tempuh ke lokasi beraktivitas, jumlah biaya yang dikeluarkan masing-masing bulannya, kejadian yang tidak mengasyikkan selama perjalanan, dan masih tidak sedikit lagi. Berikut temuan dari hasil sruvei Transportasi.

a. Ada lho, Waktu Tempuh ke Kantor itu Lebih dari 3 Jam
Kebayang, kan? Berapa tidak sedikit waktu yang dikuras di luar lokasi tinggal setiap harinya bila lama masa-masa tempuh ke lokasi beraktivitas lebih dari 3 jam? Pasti paling melelahkan.

Umumnya, jam kerja ialah 8 jam. Bila diperbanyak dengan lama perjalanan dari lokasi tinggal ke lokasi kerja sampai lebih dari 3 jam, maka total masa-masa yang dikuras di luar sana menjangkau sekitar 14 jam! Hhmm ..Semangat!

Rata-rata, masa-masa tempuh perjalanan dari lokasi tinggal atau lokasi tinggal ke kantor maupun tempat kegiatan rutin lainnya memang sekitar tidak cukup dari 1 jam, bahkan lebih dari 3 jam pun ada. Ini terbukti dari hasil survei yang mengindikasikan bahwa:

< 1 jam (54%)
1-2 jam (23,1%)
1 jam (18,3%)
2-3 jam (4%)
> 3 jam (0,7%)

b. Kejadian Tidak Menyenangkan Masih Banyak Ditemui di Transportasi Umum Offline
Mungkin ini tidak mencengangkan lagi bila transportasi umum offline paling tidak sedikit memberikan akibat buruk untuk penumpang, laksana tindakan asusila, rasa was-was, sampai tindak durjana lainnya, dan masih tidak sedikit lagi.

Dari hasil survei menunjukkan, jumlah narasumber yang pernah merasakan kejadian tidak cukup menyenangkan saat memakai transportasi umum offline menjangkau 62,3%. Sedangkan yang menyatakan tidak pernah merasakan kajadian tidak menyenangkan melulu 37,7%.

Kejadian tidak cukup menyenangkan saat memakai transportasi offline merupakan:

Sopir ugal-ugalan (65,4%)
Pernah dicuri (25,4%)
Diganggu preman (21,5%)
Pernah merasakan tindakan pelecehan seksual verbal/nonverbal (14,4%)
Barang terbelakang (11,7%)
Kejadian tidak cukup menyenangkan lainnya laksana gangguan sinyal kereta, angkutan ngetem, mengisap rokok sembarangan (21,2%)
Ini berbanding terbalik bila dikomparasikan dengan pemakaian transportasi online. Pengguna transportasi online yang pernah merasakan kejadian tidak menyenangkan malah lebih sedikit.

Jumlah narasumber yang mengaku tidak pernah merasakan kejadian tidak cukup menyenangkan menjangkau 63%, sementara yang pernah merasakan kejadian tidak menyenangkan melulu sebesar 37%.

Kejadian tidak mengasyikkan yang dirasakan pemakai transportasi online merupakan:

Driver tidak menjemput lebih dari 30 menit (45,6%)
Driver berbicara kasar (16,9%)
Driver memaksa untuk menyerahkan uang tip (9,9%)
Driver mengerjakan tindakan pelecehan seksual secara verbal/nonverbal (1,8%),
Driver ugal-ugalan (0,7%)
Mengalami kejadian tidak mengasyikkan lainnya laksana order dibatalkan, kecelakaan, tidak tahu jalan, bau badan, dan tarif tiba-tiba melonjak (43,4%)
Bagaimana dengan kendaraan pribadi?
Menggunakan kendaraan individu tidak serta-merta bebas gangguan. Dari hasil survei, narasumber yang menyatakan pernah merasakan kejadian yang tidak mengasyikkan alias tertimpa musibah ketika berkendara memang tidak banyak lebih kecil dibanding yang tidak pernah merasakan musibah, yakni:

Pernah merasakan musibah/kejadian tidak mengasyikkan 35,2%
Tidak pernah merasakan musibah 37,8%
Lalu, jenis musibah apa yang tidak jarang menimpa pengendara kendaraan pribadi?

Pernah kemalangan ringan yakni jatuh atau ditabrak 48,1%
Kendaraan mogok, ban bocor, dan kehabisan bensin 37,8%
Pernah dirampok/begal 0,9%

c. Biaya Transportasi Terkecil Kurang dari Rp200 Ribu/bulan
Siapa bilang tidak dapat menghemat ongkos transportasi ke lokasi kerja? Semua tergantung dari keinginan dan pastinya jenis transportasi yang pilih, walau ada sejumlah faktor beda yang memengaruhi besar kecilnya biaya transportasi ke lokasi beraktivitas keseharian ini, laksana lokasi, dan lainnya.

Survei menunjukkan, inilah jumlah ongkos transportasi yang dikuras setiap bulannya guna melakukan kegiatan sehari-hari:

< Rp200.000/bulan (27,6%)
Rp200.000-Rp500.000/bulan (43,9%)
Rp500.000-Rp800.000/bulan (15,1%)
Rp800.000-Rp1.000.000/bulan (6,7%)
Di atas Rp1.000.000/bulan (6,7%)

d. Pembelian Kendaraan Secara Kredit Masih Jadi Pilihan
Bagi yang berpenghasilan lebih pastinya bukan hal susah untuk memenuhi keperluan akan kepemilikan kendaraan pribadi, entah tersebut sepeda motor ataupun mobil. Pun demikian, tersebut tidak menjadi garansi orang melakukan pembelian kendaraan pribadinya secara tunai.

Artinya, melakukan pembelian kendaraan pribadi terutama mobil secara kredit masih jadi pilihan, sebab berbagai dalil termasuk keperluan pengeluaran lainnya yang pun sama besarnya.

Maka, tak heran bila orang yang melakukan pembelian kendaraan individu secara kredit masih yang terbanyak dilaksanakan ketimbang secara tunai. Ini buktinya:

Membeli secara kredit (42,6%)
Membeli secara tunai (30,2%)
Kendaraan individu milik orangtua (27,2%)

e. Kesadaran Mengasuransikan Mobil Pribadi Cukup Tinggi
Bukan melulu proteksi diri, ternyata kesadaran orang untuk menyerahkan perlindungan terhadap kendaraan atau mobil pribadinya sudah lumayan besar. Ini tampak dari hasil survei yang mengindikasikan bahwa sejumlah 77,1% responden menyatakan bahwa asuransi kendaraan tersebut penting. Sedangkan yang mengaku tidak butuh adanya asuransi kendaraan melulu 22,9% dari total responden.