Ide Rumah yang Nyaman Oleh Raul Renanda

Posted on

Ide Rumah yang Nyaman Oleh Raul Renanda

Raul Renanda lebih kita kenal melalui karya-karyanya di dunia arsitektur dan interior. Lalu bagaimana bila ia menjadi seorang perupa? Pameran tunggal Raul Renanda bertajukMentah yang dipamerkan di d’gallerie Kebayoran Baru, Jakarta Selatan seakan mengukuhkan dirinya menjadi sosok yang multi talenta. Menariknya, ke- 13 karya yang ditampilkan dalam pameran pada bulan lalu tersebut semuanya tanpa nama alias untitled. Bagi Raul sebagai seorang arsitek, kecakapannya diukur dari kepiawaiannya mencari solusi atas apa yang diinginkan klien. Proses perancangan arsitektur yang dilaluinya penuh dengan aspek pemikiran dan lepas dari hal-hal yang bersifat intuitif.

Sebagai seorang arsitek selain desain rumah yang menarik, nyaman, kuat, dan artistik seorang Raul Renanda juga tak lupa memastikan kebutuhan akan listrik, air tersedia secara kontinyu. Karena akan mengganggu kenyamanan bila sebuah rumah pasokan air dan listriknya terganggu. Untuk kebutuhan listrik Raul Renanda menyarankan menggunakan genset perkins sebagai backup listriknya karena selain berkualitas, genset perkins juga dikenal awet, tahan lama dan tidak mudah rusak. Genset sendiri merupakan perangkat yang bisa menghasilkan daya listrik yang bersumber dari sumber external, seperti bensin, solar dan gas. Sedangkan untuk keperluan air, umumnya Raul Renanda menyarankan agar rumah yang dia desain memiliki sumber air artesis atau air tanah maupun air dari PDAM. dengan adanya 2 sumber air tersebut diharapkan rumah tidak sampai kekurangan air

Sadangkan sebagai perupa, proses penciptaan karya seni dipahami berkebalikan. Karya seni tidak diciptakan untuk memenuhi kebutuhan klien melainkan kebutuhan sang seniman. Karya seni hadir secara intuitif, terutama saat menciptakan. Ia bersifat ekspresif dan mendekati kualitas abstrak ekspresionisme .

 

Seorang pelukis abstrak ekspresionisme menghadapi kanvas nyaris dengan kepala kosong dan sama sekali tidak memperhitungkan hasil akhir. Yang dicermati Chabib Duta Hapsoro saat mengkurasi pameran ini yakni keinginan Raul untuk menekuni pendekatan melukis secara abstrak ekspresionisme. Aliran ini merupakan langgam yang sangat menarik dan hadir setelah Perang Dunia II. Seniman yang terkenal dialiran ini antara lain Jackson Pollock, Mark Rothko, Willem de Kooning, Franz Kline. Ciri khas langgam ini terletak pada karyanya yang cenderung ‘berantakan’.

Pada penciptaaan karya abstrak ekspresionisme, seniman mendayagunakan interaksi antara kecakapan melukis dengan kejadian yang tidak direncanakan untuk menentukan hasil akhir lukisan. Hal-hal tersebutlah yang coba dituangkan Raul ke dalam karyanya. Dalam mengerjakan sebuah lukisannya Raul biasanya menggunakan spatula. Secara ekspresif, ia mengatur komposisi dengan menarik atau mengesut cat di atas kanvas. Dari sisi goresan, kita dapat melihat bahwa semua diciptakan dalam sekali kesempatan, jika terdapat dua warna berarti lukisan tersebut diciptakan dalam dua kali kesempatan. Profesinya sebagai seorang arsitek rupanya mempengaruhi dirinya dalam proses penciptaan lukisan. Ia tampak piawai dalam mengatur komposisi agar terlihat selaras dan dinamis dengan pemilihan warna-warna yang terseleksi yakni hitam, putih, dan merah. Sehingga semua lukisan Raul dapat dibilang re?eksi otentisitas diri berdasarkan peran dirinya dalam keseharian