Ketika Guru Mendapat Tindak Kekerasan di Sekolah

Posted on

SEBELUM MENGAJAR di ruang kelas, seorang pendidik dibekali empat kompetensi yang dipelajari selama masa pendidikan. Kompetensi itu adalah kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dengan menguasai seluruh kompetensi itu, seorang guru diharapkan mampu menjalankan profesinya sebagai pendidik. Pemerhati pendidikan sekaligus akademisi, Saiful Rohman mengungkapkan, dalam prinsip pembelajaran, seorang guru haruslah mampu membawakan materi ajar dengan cara yang menyenangkan. Baik guru maupun murid harus berada dalam suasana yang akrab dan kondusif untuk pembelajaran.

Namun, dalam praktiknya tentu tidak mudah. Persoalan-persoalan yang dihadapi guru bukan sebuah barang yang dapat diidentifikasi berdasarkan sampel, tetapi subyek manusia yang memiliki identitas yang unik (Kompas, 18 November 2017). Dalam melaksanakan profesinya, seorang guru terkadang menemui hal- hal yang di luar dugaan terkait perilaku siswa. Misalnya, berhadapan dengan siswa yang bertindak tidak sopan bahkan melakukan kekerasan terhadap guru.

Sebuah dokumen yang diterbitkan pada 2016 oleh Americal Psichological Association berjudul Understanding and Preventing Violance Directed Against Teachers: Recommendations for National Research, Practice and Policy Agenda mengulas beberapa hal penting mengenai kasus kekerasan yang dilakukan siswa terhadap guru. Disebutkan bahwa sebuah penelitian menunjukkan, guru harus terlibat dalam penerapan peraturan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kekerasan di dalam kelas. Misalnya, dengan jelas menyatakan peraturan kelas dan sekolah, serta konsisten dalam pemodelan dan memberi penghargaan pada perilaku positif siswa.

Ini menjadi salah satu strategi untuk memperbaiki perilaku siswa. Guru juga dapat memperbaiki manajemen kelas dengan menjadi lebih fleksibel dan menyampaikan dengan jelas mengenai tugas yang harus dikerjakan untuk mengurangi kebingungan siswa. Selain itu, guru dapat membangun kekuatan siswa, seperti kelebihan yang dimilikinya, daripada fokus pada kelemahan atau menggunakan metode hukuman.

Jika kekerasan akhirnya benarbenar terjadi pada guru atau tenaga kependidikan, prioritas utama yang harus dilakukan adalah segera melaporkan peristiwa tersebut, kemudian mencari pertolongan dari tenaga profesional, seperti dokter atau petugas kesehatan lainnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuka layanan pengaduan terkait kekerasan terhadap guru yang dapat dimanfaatkan, yaitu melalui ult.kemdikbud.go.id atau surel pengaduan@kemdikbud.go.id. Nomor telepon, faksimile, dan SMS pengaduan dapat dilihat di halaman 35 majalah ini.

Pola Pencegahan Tindak Kekerasan
Dalam dokumen yang sama, disebutkan bahwa untuk menciptakan lingkungan kelas yang positif dan aman diperlukan praktik manajemen kelas yang efektif. Praktik tersebut misalnya dengan menyebutkan dengan jelas peraturan kelas, konsisten terhadap peraturan tersebut, memberikan penghargaan kepada siswa dengan perilaku positif, tunjukkan kepedulian terhadap siswa, berikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil pilihan berarti, dan hindari pertentangan di depan siswa lainnya, serta hindari menyalahkan siswa.

Saat tanda-tanda ancaman kekerasan dari siswa terlihat, ada beberapa hal yang bisa guru lakukan untuk menanggapi. Misalnya dengan mengakui keberadaan siswa tersebut dengan bertanya perasaan dan menawarkan bantuan yang bisa diberikan guru. Gunakan suara yang tenang dan positif saat mengarahkan siswa bermasalah ini. Guru juga bisa sesekali menggunakan humor, memberikan asuransi pendidikan untuk anak bukan bersifat sarkastik, dalam meredakan konflik, serta dapat pula berkonsultasi dengan guru bimbingan dan konseling.