Periklanan Indonesia di dunia Cyber

Iklan Bisnis Indonesia – Maraknya Internet Sebagai sarana baru yang marak pada tahun 1998 juga berikan warna baru bagi periklanan di Indoensia. Di Indonesia, fenomena iklan di internet bisa dijelaskan dari histori iklan di Detik.com. Menurut Yusuf dan Supriyanto (Jurnal Komunikasi, 2007: 106-107), situs Detik.com sejak awal berdirinya tahun 1998 dirancang untuk diakses secara gratis oleh pembaca. Oleh sebab itu, sejak kemunculan pertamanya, para pengelola berkhayal bagaimana agar newsonline ini mendapat bantuan iklan. Untungnya, meski belum tersedia kepastian berapa orang yang bakal mengakses, rupanya perusahaan distributor prosesor merek Intel Pentium bersedia mempertaruhkan dananya untuk memasang banner di Detik.com. Dengan demikian, sejak pertama kali muncul, detikcom memang telah mendapat bantuan dana dari pemasang banner iklan.

Seiring dengan meningkatnya kuantitas pengakses Detik.com, maka kalangan industri internet dan pc menjadi pelanggan utama pemasang banner. Memasuki tahun ketiga, pangsa iklan Detik.com melebar ke lingkungan bisnis perbankan dan jasa keuangan yang jadi menerapakan teknologi internet dan mobile untuk pengembangan pasarnya. Selanjutnya memasuki tahun kelima, industri otomotif dan produk kesehatan jadi ambil bagian, dan memasuki usia ketujuah banyak intitusi pemerintah yang menempatkan banyak ragam pengumuman di Detik.com.

Sampai waktu ini, harga pemasangan banner di Detik.com masaih dihitung secara flat, sekurang-kurangnya per dua pekan, maksimal per tahun. Namun memasuki tahun 2007, harga banner akan dihitung berdasarkan jumlah page views atau kuantitas klik atas banner yang terpasang. Dengan harga per views atau per klik tertentu, maka pemasanga iklan bisa menetapkan terget tersendiri berapa pengakses yang diinginkan untuk melihat atau mengkilik banner yang dipasangannya. Model pembayaran banner seperti ini juga ditujukan untuk mengurangi jumlah banner di halaman depan yang kian padat, padahal jadi tahun kelima para pengakses Detik.com sudah banyak yang menjauhkan halaman depan, tetapi segera ke halaman kanal untuk membuka berita tertentu yang diinginkannya.

Seiring dengan perkembangan teknologi mobile, Detik.com juga memasarkan produknya untuk dijajarkan lewat telephone seluler. Memasuki tahun 2001, Detik.com mulai memasarkan foto dan teks berita singkat lewat teknologi MMS dan SMS. Namun pemasaran foto, baik foto peristiwa maupun profil tokoh, ternyata tidak menarik minat masyarakat sehingga segera dihentikan. Sedangkan penjualan berita singkat via SMS tetap berlanjut hingga saat ini baik dengan proses langganan (push) maupun ketengan (pull). Selanjutnya, dengan munculnya teknologi GPRS di mobile, maka teks lengkap berita Detik.com bisa diakses lewat telephone seluler.

Menanggapi kritik pengakses atas banyaknya banner yang tampil di situs Detik.com, tahun 2004 dibangunlah DetikPortal.com yang merupakan layanan berbayar. Dengan demikian, bagi pengakses yang tidak rela terganggu dengan banyaknya banner di Detik.com bisa berlangganan DetikPortal untuk mengikuti berita-berita yang dimuat Detik.com. Dari segi konten, pelanggan DetikPortal juga meraih nilai tambah, sebab website ini sediakan konten tambahan berbentuk berita-berita tempat yang tersedia di puluhan sarana lokal, juga beberapa konten tertentu yang tersedia diterbitkan koran atau majalah khusus. Inilah praktek sindikasi yang dikerjakan Detikcom selain menjajakan konten ke media/perusahaan lain. Selain bisa mengakses DetikPortal lewat internet, para pelanggan DetikPortal juga bisa mengakses Detik.com lewat telephone seluler yang mempunyai layanan GPRS. Ini merupakan praktek sederhana konvergensi, di mana konten Detik.com bisa diakses lewat internet dan mobile. Ke depan praktek konvergensi sarana bakal menjadi keharusan dunia sarana sebab mempermudah pelanggan untuk meraih informasi yang diinginkan (dari sekian banyak informasi yang tersedia) lewat banyak ragam jenis sarana (cetak, radio, televisi, internet, dan mobile) yang mereka menentukan cocok keadaan dan keadaan.

About The Author